Misteri Tutankhamun

analisis forensik modern tentang kematian sang firaun bocah

Misteri Tutankhamun
I

Tahun 1922, dunia menahan napas. Arkeolog Howard Carter mengintip ke dalam makam purba yang gelap dan melihat hal-hal menakjubkan. Emas memantulkan cahaya di mana-mana. Tapi yang paling mencuri perhatian kita tentu saja penghuni utamanya: Tutankhamun. Firaun muda yang meninggal mendadak di usia 19 tahun. Selama puluhan tahun setelahnya, imajinasi kolektif kita bergerak liar. Pernahkah kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya membunuh raja bocah ini? Cerita pop-kultur selalu menyukai drama. Ada rumor tentang pembunuhan berdarah dingin demi takhta. Ada juga mitos kutukan mengerikan yang mengejar siapa saja yang berani mengusik tidurnya. Kutukan memang terdengar sangat seru untuk naskah film Hollywood. Tapi mari kita singkirkan sejenak bumbu mistis itu. Sebagai orang-orang yang penasaran, saya ingin mengajak teman-teman melihat misteri kuno ini dari kacamata yang jauh lebih tajam: sains modern.

II

Kisah true crime dari zaman purba ini mulai tercium serius pada tahun 1968. Saat itu, para ilmuwan akhirnya memindai mumi Tutankhamun menggunakan mesin sinar-X. Hasilnya langsung membuat dahi kita berkerut. Ada serpihan tulang yang mengambang di dalam rongga tengkoraknya. Penemuan ini memicu teori konspirasi paling populer di abad ke-20. Tutankhamun dibunuh. Ia diduga dipukul dengan keras dari belakang saat sedang tidur atau lengah. Bayangkan betapa kelamnya intrik politik di balik dinding istana Mesir kuno. Penasihatnya yang ambisius, Ay, tiba-tiba menjadi tersangka utama kita. Cerita ini sangat mudah diterima oleh akal kita. Secara psikologis, otak manusia memang menyukai pola konspirasi dan cerita tentang penjahat rahasia. Kita selalu ingin ada antagonis yang bisa disalahkan atas kematian tragis seorang anak muda. Tapi sains forensik punya cara unik untuk menampar asumsi manis kita dengan fakta-fakta baru.

III

Pada awal era 2000-an, teknologi medis sudah berlari jauh. Pemindaian CT scan tiga dimensi dan analisis DNA mulai diterjunkan ke ruang makam. Hasilnya sukses mematahkan teori pembunuhan kesayangan kita seketika. Serpihan tulang di tengkorak itu ternyata patah setelah ia meninggal. Kemungkinan besar itu terjadi karena proses pembalseman yang kasar, atau saat tim ekspedisi masa lalu berusaha melepaskan topeng emasnya secara paksa. Jadi, tidak ada pukulan mematikan di kepala. Tidak ada pembunuhan licik di tengah malam. Lalu, teka-teki medis apa yang sebenarnya sedang kita hadapi? Para ilmuwan forensik mulai memfokuskan pandangan pada detail-detail aneh yang selama ini terabaikan. Di dalam makamnya, ditemukan lebih dari 130 tongkat berjalan pelbagai ukuran. Banyak ujungnya yang sudah aus karena sering dipakai. Mengapa seorang firaun remaja yang konon perkasa butuh ratusan tongkat? Ditambah lagi, pemindaian tulang menunjukkan bentuk kakinya yang sangat tidak lazim. Jika dia tidak dibunuh secara instan, apakah dia sebenarnya sedang mati perlahan sejak hari pertama ia lahir?

IV

Di sinilah sains forensik membuka tabir kebenaran yang jauh lebih menyedihkan. Tutankhamun bukanlah raja pejuang yang gagah berani di atas kereta perangnya. Ia adalah anak laki-laki yang sangat rapuh. Analisis genetik membongkar fakta kelam dari tradisi kerajaan Mesir masa itu: perkawinan sedarah. Ayah dan ibunya adalah saudara kandung. Secara genetis, ini adalah resep untuk sebuah bencana biologis. Tutankhamun lahir dengan kondisi sumbing langit-langit mulut dan cacat kaki bawaan yang disebut clubfoot. Tulang kakinya juga mengalami nekrosis atau kematian jaringan jaringan tulang. Kondisi ini sangat menyakitkan dan dikenal dalam dunia medis sebagai Kohler disease. Itulah alasan mengapa ia tidak bisa berdiri tegak dan butuh tongkat untuk berjalan. Namun, pukulan terakhir penjemput ajalnya bukanlah datang dari pedang musuh. Sekitar usia 19 tahun, paha kirinya patah dengan parah. Luka ini mengalami infeksi hebat. Pada saat yang sama, jejak DNA dari parasit mematikan ditemukan mengendap di dalam jaringan tubuhnya. Tutankhamun ternyata mengidap malaria tropika yang akut. Kombinasi dari kekebalan tubuh yang hancur karena masalah genetika, infeksi fatal dari tulang yang patah, dan serangan malaria kronis adalah penyebab kematian yang sebenarnya. Tubuh ringkihnya sekadar tidak mampu lagi menanggung semuanya.

V

Misteri kematian firaun bocah ini akhirnya terjawab tuntas. Tidak ada pembunuh bayaran haus kekuasaan. Tidak ada kutukan gaib dari alam baka. Yang tersisa hanyalah realitas medis yang sangat manusiawi dan tragis. Sebagai manusia modern, mungkin kita sempat sedikit kecewa karena hilangnya elemen drama pembunuhan berdarah itu. Namun, justru di situlah letak keindahan ilmu pengetahuan. Sains menelanjangi mitos dan menyisakan ruang untuk empati murni. Saat melihat replika topeng emasnya sekarang, kita tidak lagi melihat dewa abadi yang tak tersentuh. Kita diajak untuk melihat seorang anak remaja yang kesakitan. Seorang anak yang berjalan tertatih-tatih di lorong istana dingin, berjuang sendirian melawan penyakit yang belum bisa dipahami oleh peradaban manusia saat itu. Sains forensik tidak datang untuk merusak keajaiban masa lalu. Sebaliknya, ia menghubungkan kita dengan leluhur kita pada tingkat yang paling emosional. Pada akhirnya, kebenaran ilmiah yang pahit seringkali jauh lebih beresonansi di hati kita dibandingkan dengan dongeng sehebat apa pun.